Pelita di Ujung Senja
Muhammad A’tourrohman
Ia goreskan takdir di papan putih
Dengan tinta yang kian menipis seperti usianya
Setiap titik adalah langkah kecil menuju cahaya
Setiap huruf adalah harapan yang disemai di hamparan nusantara
Hujan mungkin membasahi jalannya
Namun tak pernah memadamkan api semangatnya
Ia menyalakan mentari di benak yang gelap
Menjadi lilin yang rela habis membakar dirinya
Demi menghadirkan cahaya bagi muridnya
Derap sepatunya adalah sajak tentang pengabdian
Nafasnya adalah untaian kesabaran
Ia tak meminta pujian, tak meminta tanda jasa
Cukup melihat muridnya berdiri tegak menghadap mentari
Itu sudah surga
Engkaulah puisi sesungguhnya
Yang dibaca dunia dengan kemuliaan dan cinta

